Do what you like and do it honestly

Mar 3, 2013

Q and A : PUTRI INDRI ASTUTI

TERKABUL SUDAH. Aku memang pernah berdoa agar bisa merasakan langsung berteman dengan BAD-MAN. Mungkin ini hanyalah segelintir keinginan terpendam, - “ingin mengerti arti hidup”.

Berpikir terbuka. Tidak Sombong. Dan aku berharap tidak menjadi sesosok manusia yang selalu merasa benar. Tidak barat atau timur, hampir semua makhluk yang kukenal penggemar berat  marijuana dan heroin.  Yang sangat mencengangkan lagi dan lagi, diantara mereka ada yang menjual belikan barang haram tersebut. They told to me “their Bastards”, pengakuan yang sangat Gentle-MAN! itu yang membuat bibirku tertutup rapat dan tanpa suara.

Semua ini ada alasan tentunya: 1) Friendship, coba deh dengerin lagu Slank “Makan gak makan asal Ngumpul” 2) Runaway from problems, anehnya mereka sadar betul kalo itu malah hanya akan memperburuk kondisi tubuh dan tak akan pernah lari dari kenyataan. 3) Jika gak transaksi benda haram ini, makan apa aku? It’s all about choice, my friends. Kisah klasik! Dan itu prinsip hidup mereka.

Rambut gimbal, berkacama minus dan dia penggemar berat series bokep jepang.. Temanku yang satu ini beda. Dia amat sangat sibuk dan mandiri. Seorang aktifis sejati yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk membantu orang lain. Aktif memberi bantuan tenaga dan amateri hingga kepelosok beberapa negara konflik di Afrika. Sekaligus pemerhati lingkungan, khususnya pembabatan hutan di Kalimantan.

Mereka semua unik sekali dengan berbagai latar belakang sosial. Yang jelas semua baik terhadap diriku, Peace and Respect. Aku selalu dijaga dan dihormati sebagai muslimah. Buktinya, aku bisa sholat 5 waktu dan diberi Private ROOM. Itu hal terindah yang pernah kurasakan di belahan dunia lain.

Haram atau Halal. Mereka semua menjamuku dengan segala suatu yang bahkan terbaik-terbaik, “serasa dirumah sendiri”. Sebenarnya mereka jarang makan, saat bersamaku. Apakah aku memakan jatah konsumsi ransum mereka? Ya sudahlah…

Terkadang, aku juga khawatir dan merasa ketakutan setengah mati apabila hal buruk menimpaku. Waktu itu, dia (Bulek) pernah berpesan kalau sampai mabuk berat dan melakukan hal buruk pada Putri. Tolong katakana padaku besok paginya. Karena malam begini pikiranku sedang kacau. Jujur aku hanya mengangguk dan menahan tawa melihat ekspresi dia. Kok bisa dia berpesan seperti itu?

Janji! Dan harga diri itu yang mereka pegang. Friend is everything. 



Bagaimana ceritanya Kak Putri bisa solo traveling ke daratan Benua Eropa? 
Semua berawal dari kegagalan dan sedikit rasa kecawa saat mengikuti Exchange Program Student di Finland. Ditambah dengan tak adanya kabar dari temenku yang sedang kuliah di Jerman. Awalnya dia menyetujui tuk menumpang sebentar, sambil aku mengajukan aplikasi beasiswa S2 di kampusnya. Selain itu aku juga sudah membeli tiket pulang menuju Indonesia. Seperti biasa aku menggunakan PC rumah “Host Family Finland” tuk berselancar di dunia maya. Sialnya! 90 Euro melayang ke langit luas saat internet koneksi bermasalah di kala itu (host family -Finland).  Dan tak ada kabar berita selanjutnya dari temen tercinta yang tengah menempuh kuliah di negri Hitler sana, -“Pupus sudah harapanku”

Kuakui, aku memang cerobah. Dan perjalanan sebenarnya baru saja dimulai.

Oh my GOD, Apa kisah selanjutnya ketika rencana awal luluh lantah?
Segera, aku hubungi teman lainnya dan mencoba jaringan backpacker dunia, Hospitality Club. Beberapa tahun sebelumnya, aku sudah pernah menjejakan kaki di benua biru (Jerman dan Swiss), karena  mengikuti pertemuan mahasiswa dunia yang bergerak di bidang Pertanian, IAAS. Satu persatu dari mereka  kuhubungi melalui e-mail. Dan negara yang di tuju antara lain: Belanda, Jerman, Swiss, Belgia, Austria dan Turki. Apakah aku dapat mengunjungi mereka saat itu? Tanpa diduga, belasan e-mail terjawab dengan rasa antusias dan mengebu-gebu, “Respon Positive from the Western People, Hoorey”…. Dan ku juga mendapat satu undangan dari teman wanita asal lumajang yang menetap di Luxembourg. 

Bagaimana kesan pertama melihat lebih dekat belahan dunia barat seutuhnya?
RESPECT. Aku sedikit memaksa tuk meneguk Bir demi persahabatan dan menghormati orang lokal. I like being a local person, not a stranger from poor country. Mereka semua berwawasan global “open minded” dan sangat percaya dengan tamunya (itu aku). Menyenangkan sekali, ketimbang TKI yang hanya baik di muka saja, -“not always’. Masalahnya, aku selalu merana berjumpa dengan warga Negara Indonesia selama solo traveling.     

Apa yang dilihat didengar dan dirasakan selama 5 bulan  di negri orang?
Di negri yang pernah menjajah Indonesia selama tiga ratus lima puluh tahun. Aku menyambangi, Red  Light District. Lokalisasi serupa tapi tak sama seperti di Dolly Surabaya. Mariyuana dimana-mana dan dilengkapi kupu-kupu malam yang sangat aduhai.

Selain  menikmati sosok kartun bernama Tintin di negri asalnya. Aku melihat sisi kemanusian yang dilakukan kebanyakan warga Belgia. Rasa kemanusian yang tinggi dan cinta akan lingkungan tergambar dari pola pikir beberapa teman yang tinggal di Leuven - Belgia. Sangat aku kagumi usaha keras mereka terhadap alam semesta. Salah satu aksi nyata untuk membantu negara miskin (akibat perang saudara di Uganda, Nigeria dan beberapa negara rawan di Afrika) dan penyelamatan hutan di pedalaman Kalimantan ( tuk selamatkan Orang Utan). Selain itu mereka rela ditahan karena berusaha menyelamatkan lingkungan dari para perusak yang tak bertanggung jawab.

Di Luxembourg, aku kena kasus dituding merebut suami orang. Entahlah kenapa ini bisa terjadi. Seorang wanita muda belia yang terluntang lantung di negri seberang dan beruntung menikahi pria tua dari negri kaya eropa barat. Aku juga tidak begitu peduli dengan    yang satu ini. Dan dialah satu satunya warga Negara Indonesia yang mengundang diriku  tuk mampir kerumahnya waktu itu.  Parhanya. Aku di bawa ke restoran mahal saat pelesiran ke Perancis dan di suruh bayar senndiri semua hidangan di atas meja. Sebenarnya, suaminya sering kali berkeluh kesah dengan sikap istrinya yang boros dan tak tau tata karama. Sehingga aku mempercepat masa tinggalku dengan mereka. Sebenarnya sang suami anggap aku sebagai anak dan mau membiayai kuliahku di Jerman. Karena sikap istrinya itu, dia bolak balik minta maaf padaku. Sudah seperti “kisah  sedih di hari minggu”. SINETRON ABES.

Perjalananku berakhir di Turki. Di sini, aku malah kehilangan cintaku. Memperjuangkan cinta sama dengan memperjuangkan hidup. Bukan sekedar jalan-jalan biasa yang aku alami. Tapi pembelajaran akan hidup yang lebih baik. Salah satu dari mereka sempat bertanya "Kenapa orang-orang dari negara miskin (seperti India, Moldova, Butan bahkan Indonesia tercinta) dapat lebih bahagia ketimbang beberapa Negara Eropa yg notabene Kaya Raya?" aku hanya bisa diam karena tak punya jawaban. Dia lalu melanjutkan, "Mungkin....aku akan pindah ke afrika dan memulai lagi hidupku disana".

Semua pertanyaan itu membuat diriku berpikir keras. Tanya kenapa? Everything will be alright. Semua dengan mudah diraih bagi kaum borjuis di kebanyakan dunia barat. Cepat. Mudah. Hemat.

Turki oh Turki. Aku ingin berkunjung hampir semua pelosok negri Turkey. Dimulai dari Izmir, Trabzon, Konya, Kayseri hingga Pulau Cyprus. Semua itu sungguh misteri dan mebuat berdebar debar saat mengetahui sejarah masa lampau dan melihat lebih dekat segala peninggalan kuno.

Negri yang benar-benar membuat diriku terkejut, Shock Culture. Kaum muslim di sana tidak beribadah (Only Old People). I think, they’re like Indonesian People. But I’m wrong.  Poligami disana sebagai kejahatan berat loh. Aku baru tau kalou di sana memiliki paham sendiri tentang beragama.

Hingga detik ini masih terus kutelusuri jawaban sebenarnya


Seberapa nikmat pelesiran seorang diri? Dan apakah ada kejadian konyol?
NOMADEN. Mungkin aku memangg bukan manusia yangg suka  menetap hingga ajal menjemput.

Paling konyol: Traveling alone and get lost!  Aku lupa alamat apartemen temenku di Zurich- Swiss. Dan satupun tak ada yang bisa berbahsa Inggris. Bukan hanya di Perancis loh  yang malas berbahasa Inggris, mungkin lagi apes aja. Akhirnya muter-muter geje di tengah badai salju. Dan aku juga pernah dikira penculik anak-anak ketika backpacking solo di Amsterdam-Belanda.

Ketika sudah tak ada uang di kantong, Apa yang Putri lakukan tuk terus bertahan hidup selama perjalanan melintasi Benua Biru?
Aku pernah ngamen dan kerja serabutan (cuci piring di restoran), Walaupun hanya di bayar dengan sepotong burger dan secangkir coke.

Aku sering Hitch Hiking selama berada di daratan Eropa, -ini lazim dilakukan BackPacker. Tak perlu di antar sampai ke tempat tujuan, dan aku juga berkali-kali bertukar mobil bahkan truck yang wara wiri (dari pada jalan kaki mending nebeng walaupun hanya 1  kilometer). Ini yang kualami bersama teman berkebangsaan Perancis, dan tentunya jalan kaki juga sempat kita tempuh berdua dengan menenteng tas ransel ukuran JUMBO selama musim dingin. Salju berserakan di mana-mana - “Jangan tanyakan berapa suhu minus saat itu”. Nasib sama-sama KERE!   Sialnya lagi,  beberapa supir menertawakan dan menghina kita. Mereka memang tak punya hati, gumam teman bulek yang coba menenangkan jiwaku - “hampir naik pitam”.
KONSER GRATIS! Aku cukup beruntung mengenal seorang musisi lokal, dan datang lebih awal di Bar, “sangat menyenangkan bukan”.

LUCKY! Faktor keberuntungan yang selalu menjadi dewa penolong para anak adam yang sibuk melintasi planet bumi, percayalah kawan. Berjuta kali berjumpa manusia baik (Eat – Sleep: FREE of Charge). Hingga beberapa kali di bayarin tiket transportasi, Alhamdulillah. Sewaktu di Wina - Austria, aku malahan di kasih segepok uang Euro, saat meningalkan rumah sahabat karib yang bermata biru itu. Terlebih istimewa lagi tak keluar sepeser uang receh selama terdampar di Istambul-Turki. Aku sempat terperangah dengan kebaikan warga negara Turki. Hampir semua orang sana yang kukenal baik-baik. Mereka begitu baik dan percaya sama turis,  FAKTA! Ini yang mebuat aku jatuh cinta. Tentunya kebaikan warga Turki sudah di kenal luas seantero dunia.

Setelah berhasil menerbitkan novel “Istambul with Love”. Sebenarnya siapa yang menginspirasi Putri tuk menulis?
Sedari dulu  aku suka menulis dan terlalu sering mengirim Puisi ke beberapa majalah anak-anak (Bobo dan Mentari) dan karya-karya terbaiku juga terbit di sana.
Stress! Itu alasan utama tuk menulis Novel. Terkadang terlalu penuh isi otak ini, dikaranekan seribu macam bentuk teka-teki kehidupan yang sulit diterjemahkan “Over Dozes”. Aku cuma menyukai karya Dan Brown  dan JK Rowling, serta tak pernah megidolakan seorang-pun. Tentunya, Kisah Harry Poter yang mendebarkan dan pantas tuk ditunggu (Tamat).

Selamat lahir batin, Apakah sudah puas solo traveling di Eropa?
Jujur, aku masih belum merasa puas. Kembali berburu beasiswa tuk strata dua. Aku sempat mencoba di beberapa kampus ternama Jerman. Dan DITOLAK! You  are not eligible in our program, itu jawaban terpedas dari mereka.

2011-2012 merupakan titik balik dan tahun terberat dalam hidup. Mulai dari bekerja di Perusahaan Rokok ternama negri ini. Terlilit masalah cinta dan keluarga. Hingga kabar tak jelas dari beberapa kampus yang sempat kuincar saat itu. Apakah ini jawaban yang kuingin ketika kembali ke tanah air? Aku terlalu memikirkan masa depan.

MAKE ME ALIVE. I do love traveling alone. You can get lost. You can learn more,  -“different feelings inside”. Gookill abes!

Akhirnya aku memutuskan menikah dengan sahabat karibku (pejantan tangguh berkebangsaan Turki) dan melepesakan beasiswa dari pemerintah Jerman. Karena aku memilih memulai hidup baru di Turkey bersama keluarga besar suamiku di sana. Sesekali mesti LDR, karena sang suami bekerjadi Mozambique dan aku kini menetap di Istambul.

And the last question, what’s your next project? (for 5 years later)
WRITING! Publish next Novel “wait and see soon”, speak few languages (Turkish, German, Spanish, Portugis, Russia, France, Arabic), and I’m still traveling (To Afrika and some Middle East Countries).

Happy Ending

@12-12-2012 Honey Moon with Husband at Old Town Antalya -  Turkey.

@ Kaleici (Old Town). salah satu tujuan favorit wisatawan dari Eropa. Kawasan pelabuhan yang siap membawamu menikmati teh khas turki (cay) sambil berlayar. Ada banyak Hotel n Rumah klasik khas jaman Ottoman, khas Turki.


@Namanya kofte, dari daging ayam berbumbu  (dibakar). Tuh nasi namanya Pilav, campuran antara nasi putih dan coklat (rasanya gurih soalnya cara bikinnya digoreng dulu pake minyak trus baru ditambh air). Cabe hijaunya super besar dan dibakar setengah matang, gak pedes kok. Tomatnya juga dibakar setengah matang.
“Belajarlah dari hal-hal buruk, maka Kau akan menjadi manusia yang bijaksana setelahnya”.

Comments
1 Comments

1 comment: