Do what you like and do it honestly

Aug 4, 2013

Q and A : IKA PUSPITASARI

Sekitar jam dua siang, aku berjalan lesu kearah toilet, sembari memegangi perutku. Mungkin ini dikarenakan lidahku belum bersahabat degan makanan ala barat yang tersedia lezat selama penerbangan lintasi laut mediterania. Aku melangkah di antara bangku penumpang, tanpa semangat. Dan sebentar lagi maskapai Emirate yang kutumpangi  akan segera  mendarat di Bandara Barajas, Madrid.

Aku menghembuskan napas panjang begitu sampai di tempat "Baggage Claim". Antrian yang penuh membuatku tak sabar mengingat jam terus berjalan dan khawatir temanku yang datang menjemput terlalu lama menunggu.

Fiuh, ada baiknya bandara tidak dibuat terlalu megah. Dengan kondisi penumpang yang kecapekan setelah terbang belasan jam, lebih baik tempat pengambilan barang diperpendek, umpatku penuh denagan nada kesal. Bayangkan, saking besarnya bandara ini, aku harus naik turun lift, naik lagi, turun lagi, mulai naik turun di tangga biasa hingga naik turun elevator. Belum lagi, aku perlu naik metro train untuk mengambil koper dan ranselku.

Di tengah-tengah keramaian, aku melihat sosok seseorang yang amat sangat dikenal. Sebagai pecinta sepakbola, pasti sudah  tahu siapa dia. Apalagi jika Spanyol adalah tim negara favorit. Hanya saja otakku sedang macet, serta kurang mampu menjawab rasa penasaran dalam hatiku. Tunggu sebentar, aku mengenalnya dan sering melihat di layar kaca. Aha! Akhirnya aku inget. Itu kan Iker Cassillas, penjaga gawang terbaik yang membawa Spanyol menjadi Juara Dunia 2010.

Aku berlari mendekatinya. Tanpa sadar, tubuh yang lelah ini tiba-tiba tak terasa lagi dan aku merasa baik-baik saja saat mengejarnya. Loh, tapi... siapa yang bakal motretin? Bukannya aku sendirian di sini? Alhamdulillah, ada seorang kakek yang masih bugar berdiri tak jauh dari tempatku, segera saja kusodorkan kamera tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sayangnya, Iker ternyata sangat beda dengan aslinya ketika di jepret.

"Hai!" dengan ramah dan senyumnya yang menawan, Iker menyapaku setelah satu jepretan.

"Thanks," balasku sembari berjalan beberapa langkah mengikutinya. Malahan, aku lupa mengucapkan "thanks" pada Sang Kakek yang telah berjasa menolongku memotret. Cassillas telah berlalu jauh sementara aku masih tersenyum-senyum sendiri melihati hasil jepretanku. Ternyata tadi si Iker bersama dengan kekasihnya, Sara Carbonerro.


Sedari dulu, Ika Puspitasari  hanya bisa menatap lincahnya pemain bola di kotak bodoh, hingga larut malam. Dia berambisi melihat sang idola kulit bundar secara empat mata.

Dia terbang ke benua biru bukan untuk menyaksikan sepak bola, melainkan ikut pertemuan khusus mahasiswa pertanian dunia (IAAS). Semua berawal dari permasalahan visa masuk meunuju negara dunia ketiga, Macedonia. Sangat menguras banyak tenaga dan membuat frustasi, sehingga sang gadis magetan ini memulai memutar otak dan memulai semua cerita perjalanan dari negri matador terlebih dahulu…



7 hal yang terlintas di kepala ketika mendengar kata Spanyol?
Sepakbola, Real Madrid, Dani Pedrosa, Andalusia, Barcelona, tarian Salsa, gracias.


Apakah hanya karena sepak bola? 
Saya ke Spanyol untuk mendapatkan visa Schengen yang bisa saya gunakan ke Macedonia. Namun untuk panggilan hati, memang dari dulu saya berkeinginan untuk bisa ke Spanyol secara langsung dikarenakan saya sangat tertarik dengan sepakbolanya. Hanya dengan kesempatan itu, saya bisa menuruti keinginan hati saya.
 
Apakah pernah berdoa tuk bertemu dengan Iker Cassilas sebelumnya? 
Tidak pernah sama sekali. Saya tidak begitu mengidolakan Iker Cassillas, namun saya senang karena dia kiper terbaik yang membawa jagoan saya, Spanyol, menjadi juara dunia dan juara Eropa.

Bagaimana rasanya pertama kali naik pesawat? 
Amazing! Banyak hal yang saya kagumi, namun terkadang terasa membosankan karena sendirian dan perjalananya lama.

Apa yang berkesan selama di daratan benua biru? 
Yang paling mengesankan adalah ketika trade fair di Macedonia, ada cowok bernama Martin yang pengen sekali ke Indonesia. Saat itu, keripik ketela, singkong, dan tempe sukses dilahap sendiri oleh Martin. Dia sama sekali tak beranjak dari meja makanan Indonesia dan memakan keripik-keripik tersebut hingga tak bersisa. Sebelumnya, dia tak tau tentang negara Indonesia, dan setelah ini, dia pengen sekali berkunjung ke Indonesia untuk mencoba berbagai makanan lainnya.

Apa kejadian terburuk selama perjalanan? 
Ketika saya membeli tiket ke Paris hanya karena saya tidak punya pilihan lain untuk menghabiskan masa visa saya.

Dan apakah itu bener bener sebagai titik balik? 
Banget. Karena saya jadi tahu, bahwa apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan, dan belum tentu pula menjadi yang terbaik untuk kita jalani.

Sudah belajar apa saja? 
Banyak yang saya pelajari. Mulai dari kultur, seni, bahasa (meski tidak begitu banyak), dan masih banyak lagi. Arti hidup? Banyak banget yang saya bisa dapatkan pula di sana. Intinya, melihat sesuatu, jangan hanya dari luarnya saja. Namun, buka dan gunakan pula mata hati untuk melihat keindahan yang jauh lebih besar di balik apa yang telah jelas terlihat secara kasat mata.


Apa yang membuat kamu kepingin kembali ke eropa? 
Hmm… yang membuat saya tertarik dengan Eropa, sampai saat ini adalah sejarah dan sepakbola.

Apa benar di benua biru serba mewah? 
Saya tidak setuju. Ketika saya berada di Macedonia, negara ini sangat jauh dari kesan glamor. Negara ini tidak terlalu kaya. Banyak pedesaan, dan kota-kotanya pun tidak sepadat Madrid. Macedonia sebagai negara Eropa, mungkin punya kapasitas yang sama dengan Indonesia sebagai negara Asia, dalam hal tingkat keglamoran. Di akhir WoCo, delegasi melakukan field trip ke kota Resen. Di sana kami berada di sebuah danau yang menurut saya tempatnya lebih buruk dibanding dengan danau di Indonesia. Bahkan, saat saya dan Icha, delegasi IPB berjalan-jalan berdua di danau itu, ada sepasang manusia yang meminta foto bersama kami. Rasanya aneh aja. Kayak kalo kita lagi melihat artis gitu dan minta foto bareng. Kemudian, ada beberapa pria paruh baya yang berkumpul di tempat semacam kafe. Mereka memanggil kami dan mengajak kami berfoto bersama juga. Mereka juga menawarkan kami minum, namun kami menolaknya. Begitupun dengan makanan yang disajikan panitia untuk peserta WoCo. Tidak terlalu mengesankan dan lezat. Bahkan, seorang delegasi dari Italy mengatakan, “The foods are shit!” jadi saya pikir, keadaan Macedonia sangat berbeda jauh dengan negara-negara maju Eropa yang lain.

Bagaimana menangani shock culture, sebagai muslimah? 
Saya tidak terlalu merasakan shock culture, karena saya tahu budaya mereka jauh sekali degan budaya saya. Sehingga saya hanya mempersiapkan diri dengan baik. Saya juga berusaha untuk membawa diri untuk berbaur bersama mereka. Alkhamdulillah, mereka orangnya cukup respek dengan agama saya, sehingga saya tidak merasa kesulitan. Koki yang memasak pun sudah paham bahwasanya Muslim tidak memakan babi, sehingga ia menyediakan makanan lain untuk delegasi Indonesia ketika delegasi negara lain menyantap babi, misalnya roti, daging ayam, dan apa saja yang bukan babi. Yang saya perlu adaptasi ialah masalah kamar mandi dan waktu beribadah.


Apakah ada perubahan setelah kembali ketanah air? 
Yap, dari segi profesionalisme, saya bisa belajar menjadi trainer karena selama mengikuti WoCo, saya mengikuti banyak sekali training yang akhirnya saya praktekkan di hadapan teman-teman IAAS lainnya. Kalo dari segi rohani, mungkin saya bisa menjadi lebih dewasa, bijak, dan tidk terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Hikmah hidup yang sangat penting membuat saya menyadari telah banyak kesalahan yang saya lakukan di masa lalu.

Comments
0 Comments

0 comments: