Do what you like and do it honestly

Sep 27, 2013

AMALIA CINTA YANG HILANG

HANYA TERSISA KENANGAN. Amalia, 28 tahun. Ia berkebangsaan Perancis. Postur tubuhnya ramping, berkaca mata minus, dan sering  kehilangan konsentrasi di saat keluar masuk mobil. Selalu saja ada benjolan merah di kepala bulatnya, karena terbentur pintu. Mungkin dia tengah Jet-Lag kala itu.

Ingatan merupakan anugrah ilahi. Apapun yang kurasa  dan apapaun yang kupikirkan  akhirnya kembali lagi  pada diri sendiri - seperti bumerang.  Aku selalu terbayang wajah manisnya. Tak ada sedikit pun celah untukku mengalihkan perhatian pada wanita lain. Tangannya yang mungil dan lembut,  kebiasaannya yang selalu menatap lekat mata lawan bicara ketika bertanya,  dengan sendirinya senyumnya akan terbayang. Karena begitu jelasnya, aku merasa seakan-akan  bisa meraba semua itu  satu per satu. Mengapa hal ini bisa terjadi?  

Meskipun kini sudah dua tahun berlalu, aku masih bisa mengingat dengan jelas ia terkulai lemas di hamparan pasir berbisik. Angin berhembus kencang menampar wajah yang penuh peluh, seakan tabrakan bersama terik sang mentari. Sambil menangis ia bercerita tentang hidupnya yang ruwet kepadaku.
 

Aku masih ingat rintihan tangisnya di pundakku. Meski tumbuh besar di gemerlap kota Paris, ia memiliki banyak mimpi yang harus terkubur ketika menginjak remaja. Ia ingin membahagiakan orang tua, hidup penuh kasih, juga pergi melihat belahan dunia  dengan seseorang yang dicintai.
 
Masa kecilnya sungguh sempurna. Selalu penuh canda tawa dan pelukan hangat. Dan semua memudar begitu cepat, ketika sang ibunda tiada. Tak ada lagi tempat ia berbagi. Sepi terlalu sering bersamanya.  Ia harus berjuang untuk mandiri. Rumah semakin sunyi, ketika ayah terlalu sering bolak-balik ke negri tirai bambu. Darah Cina yang mengalir dalam tubuhnya, mendatangkan permasalahan baru “rasisme”, ketika mencari kerja di kawasan menara Eifel.  

Padahal di bangku sekolah, ia merasa tidak ada perbedaan antara pelajar lokal maupun asing. Semua mendapat hak dan kewajiban yang setara, untuk menimba ilmu pengetahuan. Pemerintah Perancis sangat mendukung penuh proses belajar dan mengajar.   
 
Setelah sarjana, ia memutuskan kerja di Kuwait. Ia bekerja di salah satu perusahaan periklanan terbesar  di timur tengah, sebagai designer grafis. “Apakah ini namanya takdir?” tanyaku penuh rasa antusias. Ia diam sambil menarik nafas dalam-dalam. “Kini tabunganku lebih dari cukup, aku rasa harus pulang ke rumah, ayahku sendirian”, dengan wajah merona merah yang berlinang air mata. Ia sadar, luka dan masa lalu sama-sama memiliki batas yang kadang sulit dilupakan. Meski sudah panjang ia rentangkan langkah.
 
Dua hari itu  terasa sangat lama. Debu-debu berterbaran akibat putaran roda Jeep yang berseliruran di hamparan pasir berbisik. Setelah panjang bercerita kehidupanya yang begitu rumit. “Kau boleh tinggal bersamaku di Paris” celetuknya dengan senang. Hal ini karna aku punya keinginan besar untuk melanjutkan sekolah di Sorbonne. Dengan terbata-bata diriku “Je m’appelle Karis, Je suis étudiant”. Dan  sontak kita tenggelam dalam canda tawa karna logatku ketal aroma Melayu.

Sungguh indah kenangan itu. Bisa kubilang ini petunjuk dari sang maha pencipta. Kini aku rindu dan merasa kehilangan sosok manis itu.

Aku menunggunya, dengan rindu terdalam, dengan ingin yang penuh. Lalu, diam-diam ia membawaku, hanyut dalam kisah. Menua dalam kisah.
 

Aku berdiri membisu, menatap kawah Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu. Bau belerang menusuk hidung mancungku - mematikan rasa hati. Sambil berjalan lemas, resapi pemandangan yang indah. Kepala tertunduk kaku menatap anak tangga turun, sambil telusuri tiap jengkalnya. Semua terekam tak pernah mati.
 
Aku jadi ingat perkataannya lampau "menemukan apa yang seharusnya ditemukan" . Kata-kata yang membuatku sangat girang, karena telah kutemukan dalam tubuh mungilnya.  Ketika mentari bersinar terik, perhatian yang serba manis itulah yang menjadi pemusat perhatianku untuk terus senyum-senyum ketika mendapat pesan singkat darinya.
 
Terkadang, sebuah perpisahan mengingatkan kita akan sisi terbaik seorang anak manusia. Aku ingin bertemu diruang rindu, yang terselundup pada bagian paling dalam batinmu. Aku menghargai adanya pertemuan, bahkan bagiku semua itu adalah waktu terbaik yang tak pernah bisa terulang.

Hanya saja setiap pertemuan pasti ada ujung cerita, dan setiap mengawali maka ada pihak yang mengakhiri lambat launnya. Terlebih tentang perasaan.       

Kini tak ada kabar berita, semoga kabar baik. Kenangan lalu tersimpan rapi di otakku. Semua terekam jelas; gemulai jarimu, sipu malumu, halus tutur katamu dan kecupan perpisahan yang haru biru.

Tunggu aku....

Pencarian baru saja dimulai, aku melangkah ribuan kilometer terbang  mendekati mata hatinya. Barulah disadari, perasaan cinta yang tulus, mulai membuatku merasa bahagia. Ku tentukan arah tujuan saat membentangkan peta dunia, tak peduli kemana angin berhembus. Percayalah dengan tempat-tempat tertentu yang jauh di sana, bagaikan keluarga sejati. Tak pernah khawatir tuk kembali lagi karena ku sadar di lubuk hati terdalam, bahwa takdir kita saling terkait.




Comments
1 Comments

1 comment:

  1. Keren nih.. fiksi kan ya? Agak nyastra-nyastra pula. Sudah macam penulis cerpen di Jawa Pos. Benar-benar berbobot! :) Dan kayaknya, aku baru pertama kali main-main kesini.. salam kenal ya.

    ReplyDelete