Do what you like and do it honestly

Sep 22, 2013

KASET TEREKAM MANIS

SEJAK BALITA DIRIKU SUDAH KECANDUAN MUSIK. Suara berisik selalu bergema dari kamar belakang yang berhimpitan dengan ruangan dapur. Di situlah, cikal bakal diriku mengenal Netral hingga Bon Jovi. Majalah Rolling Stones  edisi terbaru bereserakan di lantai kamar saudara lelaki yang mulai beranjak dewasa. Dia adalah sosok kakak yang membangun pola pikir dan imajinasiku di masa kini. Entah mengapa, hampir semua barang-barang dikamarnya beraroma Amerika.  

Di tengah hingar bingar alunan musik. Aku  duduk manis sambil membolak-balik majalah yang tak mampu kupahami tata bahasanya. Tapi aku terus menatap heran dandanan para “Rock Star” yang terlihat sangar sambil menjilat gitar listrik. 

Kakakku tergeletak di atas kasur kapuk dan tampak serius mengerjakan ”Pekerjaan Rumah” dan tak ada  persiapan buat ujian besok.  Nada-nada terangkai indah dan dibaluti suara kencang dari pentolan Netral, yaitu Bagus. Mungkinkah ia dapat mencerna tiap pelajaran sambil mendengarkan musik? hanya Tuhan yang paham rahasianya.
 
Aku masih terbayang emosinya, ketika bernyanyi lagu “Walah” sambil teriak didepan mukaku yang tampak lugu kala itu. Pastinya, aku sangat menikmati lagu-lagu dari Netral hingga kini. 

Mengumpulkan kaset di era digital terasa semakin sulit, dimana produsennya tinggal sedikit dan barangnya juga tidak ditemukan di toko musik terdekat. Menurut Jopie Koseng, biaya produksi kaset pada 1970-an terbilang sangat murah dibanding bentuk piringan hitam. Biaya satu kaset bisa hanya Rp 2.500. "Saat itu kaset dicintai karena memang biaya dasarnya lebih murah.  

Setauku, kaset punya berbagai “penyakit”, seperti jamuran dan suaranya “mendem”. Suara mendem terjadi karena busa atau bantalan pita kaset sudah rusak. Jika dirawat dengan cinta, kaset dapat bertahan hingga 30 tahun. Hingga detik kini semua koleksiku masih tetap merdu, suaranya. Apabila kaset mendadak keriting. Aku hanya cukup membenarkan pita dengan batang pensil, lalu di putar seperti baling-baling bambu. Sangat mudah, bukan? 

Kaset pertamaku adalah Café dari album, Potret. Ini hadiah terindah, sewaktu khitanan (baca: titit di potong dikit).  Dari matahari terbit hingga kesunyian malam tanpa rembulan, diriku selalu ditemani tembang “Bagaikan Lagit yang diciptakan oleh Melly Goeslaw”, tentunya sambil menahan perih. Kaset baru bagaikan sahabat setia. Bagiku, ini adalah babak baru memasuki dunia remaja. “Siapa yang memberikan kaset itu?” tentunya kakaku yang bernama Redo Ferdiansyah itu.


Sebelum ia berangkat ke Chicago-Illinois, ia memberikan dua buah album Netral, yaitu Tidak Enak dan Wa...lah! Perpisahan yang penuh haru biru terjadi begitu saja. Dan beberapa minggu kemudian, rumahku kemalingan dan salah satu kaset pemberiannya di gondol oleh pencuri yang tak berperasaan. Tidak hanya kaset, tapi gitar listrikku juga ikut leyap bersama sounds system.  Satu kata yang pantas menggambarkan perasaanku adalah Galau.

Masa kecilku terekam manis di tiap gulungan pita hitam. Dan aku telah memutuskan untuk menjadi seorang  kolektor Kaset. 
 


Comments
5 Comments

5 comments:

  1. kenangan masa kecil yang sangat indah ya :)

    ReplyDelete
  2. kalau jaman saya kecil dulu, jaman SD saya suka musik, anehnya justruk malah saya suka musik2 tetangga sebelah yang hampir semua lagunya yang pernah hits di indonesia saya hafal, dulu saya punya banyak koleksi kasetnya, tapi sekarang ntah dimana keberadaanya

    ReplyDelete
  3. jaman dulu masih pakai pita kaset :D
    klo sekarang CD atau lagu n video langsung ambil dari internet.

    ReplyDelete
  4. saya juga suka denger musik lho dan saya bersyukur juga merasakan betapa indahnya denger musik lewat kaset :)

    ReplyDelete
  5. Dulu beli kaset sampe rela nabung2 ya... Terus senang banget kalau kaset sang idola sudah terbeli. Bisa diputar berkali2 sampai hafal se-album.


    Kangen masa-masa itu :)

    ReplyDelete