Do what you like and do it honestly

Oct 31, 2014

CURAHAN HATI PELESIRAN KELILING DUNIA

KENAPA KITA MENDADAK PELESIRAN? Hanya ingin melihat seseuatu yang baru, belajar bersama orang asing, lari dari rutintas yang menjemukan atau ingin terkenal.  Semua itu, hanya dirimu yang tahu jawabannya.

Dunia terasa datar, ketika kita semua terhubung dengan sanak saudara di situs jejaring sosial. Ada jutaan musafir  yang menjauh dari rumahNYA, hanya berbekal tas seukuran gajah dan mungkin pergi tanpa restu orang tua.

Era baru, Ayah-Ibu dapat lebih mudah memantau anak manjanya selama 365 hari kedepan. Pastinya melalui dunia maya. Hampir tiap detik, berita terbaru dari belahan dunia lain tergambar melalui jepretan apik serta dilengkapi dengan uraian kata-kata yang manis asam asin.


Kehidupan semakin  mempermudah para musafir tuk keliling dunia.

Dimulai dengan bertaburnya maskapai harga murah, kereta dengan kecepatan suara, hingga dapat menyeleksi ribuan hostel dengan satu kali klik saja. 

Bagiku, perjalanan selalu punya arti  mendalam. Dulu tentu tak semudah sekarang, aku  berpergian selalu di damping orang tua dan teman-teman.  Kalo di ingat-ingat, dapat dihitung dengan jari  pelesiran seorang diri dan itu hanya kawasan Jawa – Bali. Setidaknya, selalu ada seseorang yang menemani ketika tersesat di kota lain. Komunikasi jarak jauh hanya bermodal sambungan kabel telpon dan terkadang melalui surat menyurat.

Seingatku, aku mulai mencintai perjalanan ketika sudah tidak mabuk darat lagi.

Ketika balita, perjalanan pertamaku adalah Pulau Dewata. Aku terbang menjauh dari garis Khatulistiwa.  Tak banyak memori yang terekam. Mungkin hanya tangisan adikku dan hamparan pasir putih bersih di sepanjang pantai Kuta. Foto-foto jadul masih tersimpan rapi di album keluarga.

Bisa dibilang, orang tuaku sangat rajin menyambangi saudara dari sabang sampai marauke, dan pastinya ku tak pernah absen ketinggalan pesawat.

Terkadang, sebuah perjalanan mengingatkan kita akan sisi terbaik menjadi seorang manusia.

Aku tak suka berburu cendra mata yang tak berguna, apalagi sekedar pamer semata. Lebih baik tenggelam dalam kehidupan lokal atau nongkrong di antara Backpacker dunia. Jutaan kisah bakal terdengar heroik selama lintasi Planet Bumi. Kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lain.

Pencarian baru saja dimulai, walaupun telah menempuh langkah ribuan kilometer menjauh dari Tugu Khatulistiwa. Barulah disadari, bahwa segala hal mengenai perjalanan mulai membuatku merasa bahagia. Aku tentukan arah tujuan saat membentangkan peta dunia, tak peduli kemana angin berhembus. Percayalah dengan tempat-tempat tertentu yang jauh di sana, bagaikan keluarga sejati. Tak pernah khawatir tuk kembali lagi karena ku sadar di lubuk hati terdalam, bahwa takdir kita saling terkait. Entah kenapa hampir setiap persimpangan, ku hanya temukan diri sendiri dengan ekspresi berbeda. Perjalanan itu bersifat pribadi.
 
Kini aku menemukan cara baru mengenal kebagaian justru melalui perjalanan, kenapa tidak? Ku dapat dengan aman memperluas diri sendiri dalam berbagai rute perjalanan untuk menempa mental juang. Di dalam buku The Geographic of Bliss, Eric Weiner menyimpulkan kebahagian di Thailand adalah tidak berpikir.

Jauh lebih baik letih karena jalan kaki untuk melihat isi dunia secara lebih dekat daripada duduk terdiam menangisi kisah sinetron di layar kaca. Tidak ada benar atau salah tuk melintasi Alam Semesta.


I’m going to start something that I’ve been dreaming of. Traveling is the Easiest part of human being.
Comments
0 Comments

0 comments: