Do what you like and do it honestly

4 Nov 2014

POTRET - CAFÉ : ALBUM LEGENDARIS INDONESIA

P O T R E T – CAFÉ  (Maret 1999). berupaya menyikapi semua karya seperti kita memasak di dapur. Pastinya, diperlukan dengan  ketepatan dalam meracik pelbagai jenis bumbu. Sampai pada penyajiannya, dilakukan  dengan pendekatan  situasi dalam sebuah café yang  menyediakan makanan dan minuman.

Kalo boleh di ibaratkan seperti sayur tanpa garam. Suatu formula baru yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat itu.

Karya lahir dalam  suasana keprihatinan. Perasaan takut, gelap, tertekan kemudian ingin berontak. Walaupun begitu, proses kreatifpun terus berjalan.  Album ketiga,  lebih maju  dari  sisi komposisi musik, serta dilengkapi  lirik-lirik  lugas nan cerdas. 



Pernah mencoba menulis lagu cinta? Melly Goeslow pintar sekali meracik kata-kata nan puitis. Namun ia tak bisa membaca not balok ataupun memainkan instrument musik.  Jika sedang mendapat inspirasi, Ia selalu meminta suaminya, Anto Hoed  untuk merancang kompisisi musik. Selain itu, Ia  ternyata  sering diskusi mengenai lirik (kata-kata unik di kehidupan) dengan sang mertua  - yang berprofesi sebagai dosen sastra. 

Potret berdiri sejak tahun 1995 di Jakarta. Band yang terdiri dari  Melly Goeslow (a.k.a pengisi suara), Antoe Hoed (a.k.a Pembetot senar Bass) dan Arie Ayunir (a.k.a  Penggebuk Drum dengan cinta kasih)  mampu  menagkap  fenomena krisis sosial masyarakat Indonesia.Semua lagunya lugas, tajam  dan enak tuk di dengar.  All the songs are my favorite - EPIC!

Lagu pamungkas Potret di Album Cafe bertajuk “Video Clip Potret Diam” sangat  Easy Listening dan menerima beragam penghargaan musik. Ketika menonton klipnya yang serba hitam putih, saya  malah terpesona dibagian akhir cerita - syuting  berlatar belakang  Toilet.  Gak taunya si Melly Goeslow lagi NGISING...!!!!!? sedikit menyijikkan.

Banyak orang  mengira bagian intro “Diam” mirip dengan karya lawas Band Weezer – “Say It Ain't So”. But I don’t really care. I feel the sounds perfect, and  I like the song so much.  Potret  itu enak didengar dan nyaman dilihat. 

Tak ada manusia yang sempurna di Planet Bumi. Saya terperangah ketika menghayati lagu yang berjudul R (Dibaca Y).  Ketika masih balita, saya sulit sekali melafalkan huruf “R” dengan sempurna, cenderung berkarat. Sudah pasti jadi bahan olokan sanak saudara (dianggap lucu banget). R (Dibaca Y) adalah soundtrack kehidupan masa lalu.  Lagu tersebut  sangat kocak dan enak tuk didengar.    

Sebenarnya sosok Arie Ayunir dan Antoe Hoed sangat misterius. Saya pikir,  mereka berdua berkontribusi besar dalam meramu alunan musik dan mengatur tempo yang membuat hati terus bahagia. Itu saya rasakan betul ketika menikmati lagu  Bagaikan Langit. Oh senangnya, saya senang sekali. Dan kenangan terindah membuat penderitaan di sunat musnah - bagai ditelan bumi. Semua kenangan itu tersimpan rapi di tiap gulungan pita hitam Album Café – Band  Potret

I listen all songs  such as Bagaikan Langit, Mawar,  Kemarin, Diam from Band Potret, I feel so timeless. And I think, Kentut Siapa? is going to be my favorite song forever. Gilaaaaa…. bagus banget. Semua lagu Potret di Album Café lebih dinamis  - mantap tuk di santap dalam situasi apapun.
 
All Art (Cover Design) : Arie Ayunir
Photographer: Mayzal

Jujur, saya sangat puas dengan hasil design sampul album ketiga, serba hitam putih. Informasi lengkap mengenai orang-orang yang terlibat dalam melahirkan Album Legendaris Indonesia tercoret rapi di sana.

Di pojok kiri bawah sampul Album tertulis “Potret Joint fight against corruption, collusion & nepotism”. Sebuah ungkapan kepedulian  yang dalam banget dari sebuah Band besar Indonesia. Satu harapan  tuk melihat bangsa Indonesia terus damai di masa mendatang.  “Express yourself peacefully, Let’s build Indonesia Baru”. 

MAIN DISH
APPETIZER
(Gendonesia Vocal, Denny Chasmala Acoustic & Electric Guitar, Prass, Rudi, Madi & Melly Goeslow noise maker –  52 p)

Video Clip Potret - Diam, tidak bicara, tidak bergerak, bukan berarti berhenti berpikir atau tidak mempunyai pendapat. Diam bisa berarti 1001 macam, bisa ya atau tidak, bisa senang bisa tidak.
(Denny Chasmala  - Electric Guitar, Antoe  Hoed – Synthesizer, £ 4.18)

Kentut Siapa?, bau busuk lambat laun akan tercium karena manusia kurang pandai untuk menyembunyikannya. Apalagi pikiran-pikiran bususk, iri hati, tidak mau kalah, dengki, cepat atau lambat akan muncul ke permukaan.
(Dewa Budjana Denny Chasmala Electric Guitar,  Prass & Budy Cymbals, Reno Ludwiga Shout & Whisper, Arie & Anto Hoed Synthesizer – £ 3.34)

Kemarin, tidak semua pujian dapat membuat orang merasa apalagi pujian itu tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya  dan punya tedensi untuk menjatuhkan akibatnya orang yang dipujipun akan mearasa tidak layak untuk menerima pujian.
(Denny Chasmala Electric Guitar, Andy Ayunir Synthesizer, Arie Gunshot – £ 2.40)

Peduli, manusia manapun diharapkan tentunya punya moral barang sedikit, kalo masih tersisa dalam benak kita, bersyukurlah. Cerita tentang diri kita sendiri. 
(Sa’uniene String Quartet, Denny Chasmala Electric Guitar, Novi, Intan Ewa Rita Backing Vocal, Anto Hoed Synthesizer – £ 4.45)

R (Dibaca Y), barangkali manusia memang layak dipenuhi dengan kekurangan bahkan manusia terhebatpun akhirnya bisa tumbang karena kekurangannya. Terima Kasih.
(Denny Chasmala Electric Guitar, Anto Hoed Synthesizer – £ 2.36)

SIDE DISH
Satu Kebanggaan, berbahagialah sebagai orang yang mendapatkan sesuatu penuh dengan berbagai cobaan. Raihlah sesuatu dengan perjuangan dan jangan pernah berhenti jika sebelum berhasil… berjuanglah terus  karena saatnya nanti bila kita dapat meraihnya akan merasa sangat puas dan bahagia.
(Denny Chasmala Acoustic & Electric Guitar, Anto Hoed Synthesizer – £ 4.17)

Bagaikan Langit, jatuh cinta adalah hal yang terindah buat kita semua, hati yang sedang berbunga membuat semua hal terlihat bagus, cantik meski kadang penuh dengankeburukan di sisi lain.
(Denny Chasmala Electric Guitar, Arie & Anto Synthesizer – £ 3.24)

Masochist,  bentuk deviasi seks yang tentunya ada dalam masyarakat kita dari dulu hingga sekarang bahwa manusia dapat hidup bahagia meskipun dalam keadaan disiksa oleh kekuatan-kekuatan lain yang ada dalam kehidupan kita.
(Dewa Budjana, Anto Hoed Synthesizer – £ 4.06)

Mawar, ungkapan untuk wanita. sentuhlah seperti sekuntum bunga mawar, hati-hati terhadap durinya. Jika busuk jauhilah dan jika belum mekar siramlah dengan air agar dapat dipetik pada saatnya mekar nanti.
(Denny Chasmala Electric Guitar, Anto Hoed Synthesizer – £ 2.31)

Kenyataan, dalam kehidupan – cara memandang suatu masalah dalam hidup kita, agar selalu realistis meskipun pahit. Ada kalanya kita perlu untuk berangan barang sekejap karena angan-anganpun dapat menjadi kenyataan.    
(Denny Chasmala Acoustic & Electric Guitar, – £ 3.20)

DESSERT

(Anto & Arie : Acoustic Guitar - £ 4.18)

All tracks produces by Melly,  Antoe, and Arie

Potret ingin terus bermusik….  “Tanpa diasah, bakat itu tak pernah ada” ujar seorang penyanyi wanita yang selalu tampil “nyentrik” di panggung. Tetap bermusik dan selalu membuat karya bagus  menjadi falsafah yang dianut oleh band Potret. 

Tak lama setelah kesuksesannya membesar, Potret ditinggal pergi  si penggebuk drum kesayangan ; Arie Ayunir  -   demi  meneruskan pendidikannya ke Amerika. Dan di tahun 2001 digantikan oleh Aksan Sjuman.



Sebagai anak  90-an, saya sangat bangga (baca: membusukan dada penuh bulu) dan  sangat senang menikmati musik Indonesia zaman itu. Saya bener-bener mencitai kualitas  musik yang baik – bercita rasa tinggi. Pada masanya, lagu-lagu seperti  ini sudah dibalut dengan irama Riang N Gembira, dan menitipkan  pesan moral yang sangat baik.

Kini, saya rindu kualitas terbaik musik Indonesia. Kemana, kemana, kemana?

19.30 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 2

22 Okt 2014

THOM YORKE : STRATEGI JENIUS MEMASARKAN MUSIK

Seorang musisi sejati, pasti takkan rela jika karyanya dibajak.  Apakah Thom Yorke berhasil merubah gaya orang mencuri musik?  

Beberapa tahun silam, sang pentolan Radiohead,  menyatakan bahwa situs Spotify telah gagal dalam memberi dukungan terhadap musisi. Kenapa? karena Ia  sadar betul bahwa para musisi takkan dibayar sama sekali. Selain itu, banyak artis menilai bayaran dari situs streaming internet terlalu rendah. Dan akhirnya, Ia menghapus musiknya dari layanan streaming yang paling populer di dunia. 



Saat para penggemar menantikan album baru Radiohead, sang vokalis - Thom Yorke, malah hadir dengan album pribadi  yang bertajuk “Tomorrow's Modern Boxes”.

Jujur, saya terbiasa mengakses BitTorrent demi mendapatkan data-data secara gratis. Namun kali ini, saya harus merogoh kocek sebesar US$ 6, untuk 8 lagu dan sebuah video musik. Selain itu  juga tersedia  medium penjualan lain seperti piringan hitam 180 gram yang dilaminasi bahan pelindung komponen anti elektrostatik.

Sejak menjamurnya pembajakan, Ia muncul dengan ide  jenius dalam menentukan strategi pemasaran mahakaryanya. Ia siap untuk mengambil resiko dan mungkin terlihat sangat bodoh. “Musik itu seperti matematika”, ujar Yorke saat di wawancarai BBC. Ia yakin jika musik bagus, orang pasti rela membayar mahal."

Versi gratis yang dibagikan berbentuk paket single plus video "A Brain In a Bottle". Dalam kurun waktu 24 jam saja, lagu perdana sudah diunduh secara cuma-cuma oleh 166.000 pengguna BitTorrent.

Album Tomorrow Modern Boxes ini diproduseri oleh produser lama Radiohead, Nigel Godrich.

Matt Mason, pemimpin BitTorrent, mengatakan bahwa Yorke dan Godrich telah lama memiliki pandangan untuk berbagi musik secara unik.

"Ekperimen yang bertujuan untuk melihat apakah mekanisme dari system ini diinginkan masyarakat umum atau tidak? Jika cara kami berhasil, yang lain bisa mengikutinya," ujar Yorke.

Pembagian keuntungan hasil penjualan melalui BitTorrent ini 10% untuk pihak Bit Torrent, sedangkan 90% sisanya masuk ke kantong  Yorke. Sebuah metode bisnis yang adil dan tidak merugikan musisi  bukan?

THOM YORKE yang mengisi bagian vokal dan sesekali sambil main  gitar dan piano ini punya karakter suara falsetto yang  khas. Sebenarnya, ia cenderung pendiam di balik panggung. Namun pria asal Inggris ini seperti kerasukan setan saat menjiwai lagu-lagunya ditengah konser. Belum lagi ekspresi dan penghayatan dia terhadap  beberapa lagu bersama Radiohead bener-bener selalu sukses bikin merinding.  dinamika emosi yang naik turun bisa sangat terasa di ubun-ubun kepala.

Tomorrow Modern Boxes, sangat kreatif serta tidak dibebankan kepada tuntutan komersial. Musiknya berevolusi dengan cerdas. Albumnya memang jadi pembicaraan banyak orang. Namun, ada yang menilai itu sebagai inovasi atau sesuatu yang konyol.

Ada sesuatu yang berharga dari pemilihan melodi di keseluruhan lagu. Penikmat musik di ajak untuk menyelam lebih dalam untuk menikmatinya.  Barry Nicholson dari NME mengatakan bahwa “akan sulit untuk menyukai ketika pertama kali mendengarkan”. Album kedua Yorke, sempat terasing bagi beberapa pendengar. Jadi harus di ulang-ulang untuk mendapatkan sensasi tinggi mendalam.

Semua lagu ditulis oleh Thom Yorke, kecuali "Guess Again!" yang merupakan hasil kolaborasi dengan Colin Greenwood.



Thom Yorke  - Tomorrow's Modern Boxes  :
1. "A Brain in a Bottle"   4:41
2. "Guess Again!"       4:24
3. "Interference"       2:49
4."The Mother Lode"   6:07
5. "Truth Ray"   5:14
6. "There Is No Ice (For My Drink)"  7:00
7. "Pink Section"       2:35
8. "Nose Grows Some"   5:23


06.04 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 1

27 Sep 2013

AMALIA CINTA YANG HILANG

HANYA TERSISA KENANGAN. Amalia, 28 tahun. Ia berkebangsaan Perancis. Postur tubuhnya ramping, berkaca mata minus, dan sering  kehilangan konsentrasi di saat keluar masuk mobil. Selalu saja ada benjolan merah di kepala bulatnya, karena terbentur pintu. Mungkin dia tengah Jet-Lag kala itu.

Ingatan merupakan anugrah ilahi. Apapun yang kurasa  dan apapaun yang kupikirkan  akhirnya kembali lagi  pada diri sendiri - seperti bumerang.  Aku selalu terbayang wajah manisnya. Tak ada sedikit pun celah untukku mengalihkan perhatian pada wanita lain. Tangannya yang mungil dan lembut,  kebiasaannya yang selalu menatap lekat mata lawan bicara ketika bertanya,  dengan sendirinya senyumnya akan terbayang. Karena begitu jelasnya, aku merasa seakan-akan  bisa meraba semua itu  satu per satu. Mengapa hal ini bisa terjadi?  

Meskipun kini sudah dua tahun berlalu, aku masih bisa mengingat dengan jelas ia terkulai lemas di hamparan pasir berbisik. Angin berhembus kencang menampar wajah yang penuh peluh, seakan tabrakan bersama terik sang mentari. Sambil menangis ia bercerita tentang hidupnya yang ruwet kepadaku.
 

Aku masih ingat rintihan tangisnya di pundakku. Meski tumbuh besar di gemerlap kota Paris, ia memiliki banyak mimpi yang harus terkubur ketika menginjak remaja. Ia ingin membahagiakan orang tua, hidup penuh kasih, juga pergi melihat belahan dunia  dengan seseorang yang dicintai.
 
Masa kecilnya sungguh sempurna. Selalu penuh canda tawa dan pelukan hangat. Dan semua memudar begitu cepat, ketika sang ibunda tiada. Tak ada lagi tempat ia berbagi. Sepi terlalu sering bersamanya.  Ia harus berjuang untuk mandiri. Rumah semakin sunyi, ketika ayah terlalu sering bolak-balik ke negri tirai bambu. Darah Cina yang mengalir dalam tubuhnya, mendatangkan permasalahan baru “rasisme”, ketika mencari kerja di kawasan menara Eifel.  

Padahal di bangku sekolah, ia merasa tidak ada perbedaan antara pelajar lokal maupun asing. Semua mendapat hak dan kewajiban yang setara, untuk menimba ilmu pengetahuan. Pemerintah Perancis sangat mendukung penuh proses belajar dan mengajar.   
 
Setelah sarjana, ia memutuskan kerja di Kuwait. Ia bekerja di salah satu perusahaan periklanan terbesar  di timur tengah, sebagai designer grafis. “Apakah ini namanya takdir?” tanyaku penuh rasa antusias. Ia diam sambil menarik nafas dalam-dalam. “Kini tabunganku lebih dari cukup, aku rasa harus pulang ke rumah, ayahku sendirian”, dengan wajah merona merah yang berlinang air mata. Ia sadar, luka dan masa lalu sama-sama memiliki batas yang kadang sulit dilupakan. Meski sudah panjang ia rentangkan langkah.
 
Dua hari itu  terasa sangat lama. Debu-debu berterbaran akibat putaran roda Jeep yang berseliruran di hamparan pasir berbisik. Setelah panjang bercerita kehidupanya yang begitu rumit. “Kau boleh tinggal bersamaku di Paris” celetuknya dengan senang. Hal ini karna aku punya keinginan besar untuk melanjutkan sekolah di Sorbonne. Dengan terbata-bata diriku “Je m’appelle Karis, Je suis étudiant”. Dan  sontak kita tenggelam dalam canda tawa karna logatku ketal aroma Melayu.

Sungguh indah kenangan itu. Bisa kubilang ini petunjuk dari sang maha pencipta. Kini aku rindu dan merasa kehilangan sosok manis itu.

Aku menunggunya, dengan rindu terdalam, dengan ingin yang penuh. Lalu, diam-diam ia membawaku, hanyut dalam kisah. Menua dalam kisah.
 

Aku berdiri membisu, menatap kawah Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu. Bau belerang menusuk hidung mancungku - mematikan rasa hati. Sambil berjalan lemas, resapi pemandangan yang indah. Kepala tertunduk kaku menatap anak tangga turun, sambil telusuri tiap jengkalnya. Semua terekam tak pernah mati.
 
Aku jadi ingat perkataannya lampau "menemukan apa yang seharusnya ditemukan" . Kata-kata yang membuatku sangat girang, karena telah kutemukan dalam tubuh mungilnya.  Ketika mentari bersinar terik, perhatian yang serba manis itulah yang menjadi pemusat perhatianku untuk terus senyum-senyum ketika mendapat pesan singkat darinya.
 
Terkadang, sebuah perpisahan mengingatkan kita akan sisi terbaik seorang anak manusia. Aku ingin bertemu diruang rindu, yang terselundup pada bagian paling dalam batinmu. Aku menghargai adanya pertemuan, bahkan bagiku semua itu adalah waktu terbaik yang tak pernah bisa terulang.

Hanya saja setiap pertemuan pasti ada ujung cerita, dan setiap mengawali maka ada pihak yang mengakhiri lambat launnya. Terlebih tentang perasaan.       

Kini tak ada kabar berita, semoga kabar baik. Kenangan lalu tersimpan rapi di otakku. Semua terekam jelas; gemulai jarimu, sipu malumu, halus tutur katamu dan kecupan perpisahan yang haru biru.

Tunggu aku....

Pencarian baru saja dimulai, aku melangkah ribuan kilometer terbang  mendekati mata hatinya. Barulah disadari, perasaan cinta yang tulus, mulai membuatku merasa bahagia. Ku tentukan arah tujuan saat membentangkan peta dunia, tak peduli kemana angin berhembus. Percayalah dengan tempat-tempat tertentu yang jauh di sana, bagaikan keluarga sejati. Tak pernah khawatir tuk kembali lagi karena ku sadar di lubuk hati terdalam, bahwa takdir kita saling terkait.




11.07 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 1

22 Sep 2013

KASET TEREKAM MANIS

SEJAK BALITA DIRIKU SUDAH KECANDUAN MUSIK. Suara berisik selalu bergema dari kamar belakang yang berhimpitan dengan ruangan dapur. Di situlah, cikal bakal diriku mengenal Netral hingga Bon Jovi. Majalah Rolling Stones  edisi terbaru bereserakan di lantai kamar saudara lelaki yang mulai beranjak dewasa. Dia adalah sosok kakak yang membangun pola pikir dan imajinasiku di masa kini. Entah mengapa, hampir semua barang-barang dikamarnya beraroma Amerika.  

Di tengah hingar bingar alunan musik. Aku  duduk manis sambil membolak-balik majalah yang tak mampu kupahami tata bahasanya. Tapi aku terus menatap heran dandanan para “Rock Star” yang terlihat sangar sambil menjilat gitar listrik. 

Kakakku tergeletak di atas kasur kapuk dan tampak serius mengerjakan ”Pekerjaan Rumah” dan tak ada  persiapan buat ujian besok.  Nada-nada terangkai indah dan dibaluti suara kencang dari pentolan Netral, yaitu Bagus. Mungkinkah ia dapat mencerna tiap pelajaran sambil mendengarkan musik? hanya Tuhan yang paham rahasianya.
 
Aku masih terbayang emosinya, ketika bernyanyi lagu “Walah” sambil teriak didepan mukaku yang tampak lugu kala itu. Pastinya, aku sangat menikmati lagu-lagu dari Netral hingga kini. 

Mengumpulkan kaset di era digital terasa semakin sulit, dimana produsennya tinggal sedikit dan barangnya juga tidak ditemukan di toko musik terdekat. Menurut Jopie Koseng, biaya produksi kaset pada 1970-an terbilang sangat murah dibanding bentuk piringan hitam. Biaya satu kaset bisa hanya Rp 2.500. "Saat itu kaset dicintai karena memang biaya dasarnya lebih murah.  

Setauku, kaset punya berbagai “penyakit”, seperti jamuran dan suaranya “mendem”. Suara mendem terjadi karena busa atau bantalan pita kaset sudah rusak. Jika dirawat dengan cinta, kaset dapat bertahan hingga 30 tahun. Hingga detik kini semua koleksiku masih tetap merdu, suaranya. Apabila kaset mendadak keriting. Aku hanya cukup membenarkan pita dengan batang pensil, lalu di putar seperti baling-baling bambu. Sangat mudah, bukan? 

Kaset pertamaku adalah Café dari album, Potret. Ini hadiah terindah, sewaktu khitanan (baca: titit di potong dikit).  Dari matahari terbit hingga kesunyian malam tanpa rembulan, diriku selalu ditemani tembang “Bagaikan Lagit yang diciptakan oleh Melly Goeslaw”, tentunya sambil menahan perih. Kaset baru bagaikan sahabat setia. Bagiku, ini adalah babak baru memasuki dunia remaja. “Siapa yang memberikan kaset itu?” tentunya kakaku yang bernama Redo Ferdiansyah itu.


Sebelum ia berangkat ke Chicago-Illinois, ia memberikan dua buah album Netral, yaitu Tidak Enak dan Wa...lah! Perpisahan yang penuh haru biru terjadi begitu saja. Dan beberapa minggu kemudian, rumahku kemalingan dan salah satu kaset pemberiannya di gondol oleh pencuri yang tak berperasaan. Tidak hanya kaset, tapi gitar listrikku juga ikut leyap bersama sounds system.  Satu kata yang pantas menggambarkan perasaanku adalah Galau.

Masa kecilku terekam manis di tiap gulungan pita hitam. Dan aku telah memutuskan untuk menjadi seorang  kolektor Kaset. 
 

Terima Kasih "Redo Ferdiansyah"
18.29 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 5