Do what you like and do it honestly

22 Okt 2014

THOM YORKE : STRATEGI JENIUS MEMASARKAN MUSIK

Seorang musisi sejati, pasti takkan rela jika karyanya dibajak.  Apakah Thom Yorke berhasil merubah gaya orang mencuri musik?  

Beberapa tahun silam, sang pentolan Radiohead,  menyatakan bahwa situs Spotify telah gagal dalam memberi dukungan terhadap musisi. Kenapa? karena Ia  sadar betul bahwa para musisi takkan dibayar sama sekali. Selain itu, banyak artis menilai bayaran dari situs streaming internet terlalu rendah. Dan akhirnya, Ia menghapus musiknya dari layanan streaming yang paling populer di dunia. 



Saat para penggemar menantikan album baru Radiohead, sang vokalis - Thom Yorke, malah hadir dengan album pribadi  yang bertajuk “Tomorrow's Modern Boxes”.

Jujur, saya terbiasa mengakses BitTorrent demi mendapatkan data-data secara gratis. Namun kali ini, saya harus merogoh kocek sebesar US$ 6, untuk 8 lagu dan sebuah video musik. Selain itu  juga tersedia  medium penjualan lain seperti piringan hitam 180 gram yang dilaminasi bahan pelindung komponen anti elektrostatik.

Sejak menjamurnya pembajakan, Ia muncul dengan ide  jenius dalam menentukan strategi pemasaran mahakaryanya. Ia siap untuk mengambil resiko dan mungkin terlihat sangat bodoh. “Musik itu seperti matematika”, ujar Yorke saat di wawancarai BBC. Ia yakin jika musik bagus, orang pasti rela membayar mahal."

Versi gratis yang dibagikan berbentuk paket single plus video "A Brain In a Bottle". Dalam kurun waktu 24 jam saja, lagu perdana sudah diunduh secara cuma-cuma oleh 166.000 pengguna BitTorrent.

Album Tomorrow Modern Boxes ini diproduseri oleh produser lama Radiohead, Nigel Godrich.

Matt Mason, pemimpin BitTorrent, mengatakan bahwa Yorke dan Godrich telah lama memiliki pandangan untuk berbagi musik secara unik.

"Ekperimen yang bertujuan untuk melihat apakah mekanisme dari system ini diinginkan masyarakat umum atau tidak? Jika cara kami berhasil, yang lain bisa mengikutinya," ujar Yorke.

Pembagian keuntungan hasil penjualan melalui BitTorrent ini 10% untuk pihak Bit Torrent, sedangkan 90% sisanya masuk ke kantong  Yorke. Sebuah metode bisnis yang adil dan tidak merugikan musisi  bukan?

THOM YORKE yang mengisi bagian vokal dan sesekali sambil main  gitar dan piano ini punya karakter suara falsetto yang  khas. Sebenarnya, ia cenderung pendiam di balik panggung. Namun pria asal Inggris ini seperti kerasukan setan saat menjiwai lagu-lagunya ditengah konser. Belum lagi ekspresi dan penghayatan dia terhadap  beberapa lagu bersama Radiohead bener-bener selalu sukses bikin merinding.  dinamika emosi yang naik turun bisa sangat terasa di ubun-ubun kepala.

Tomorrow Modern Boxes, sangat kreatif serta tidak dibebankan kepada tuntutan komersial. Musiknya berevolusi dengan cerdas. Albumnya memang jadi pembicaraan banyak orang. Namun, ada yang menilai itu sebagai inovasi atau sesuatu yang konyol.

Ada sesuatu yang berharga dari pemilihan melodi di keseluruhan lagu. Penikmat musik di ajak untuk menyelam lebih dalam untuk menikmatinya.  Barry Nicholson dari NME mengatakan bahwa “akan sulit untuk menyukai ketika pertama kali mendengarkan”. Album kedua Yorke, sempat terasing bagi beberapa pendengar. Jadi harus di ulang-ulang untuk mendapatkan sensasi tinggi mendalam.

Semua lagu ditulis oleh Thom Yorke, kecuali "Guess Again!" yang merupakan hasil kolaborasi dengan Colin Greenwood.



Thom Yorke  - Tomorrow's Modern Boxes  :
1. "A Brain in a Bottle"   4:41
2. "Guess Again!"       4:24
3. "Interference"       2:49
4."The Mother Lode"   6:07
5. "Truth Ray"   5:14
6. "There Is No Ice (For My Drink)"  7:00
7. "Pink Section"       2:35
8. "Nose Grows Some"   5:23


06.04 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 3

27 Sep 2013

AMALIA CINTA YANG HILANG

HANYA TERSISA KENANGAN. Amalia, 28 tahun. Ia berkebangsaan Perancis. Postur tubuhnya ramping, berkaca mata minus, dan sering  kehilangan konsentrasi di saat keluar masuk mobil. Selalu saja ada benjolan merah di kepala bulatnya, karena terbentur pintu. Mungkin dia tengah Jet-Lag kala itu.

Ingatan merupakan anugrah ilahi. Apapun yang kurasa  dan apapaun yang kupikirkan  akhirnya kembali lagi  pada diri sendiri - seperti bumerang.  Aku selalu terbayang wajah manisnya. Tak ada sedikit pun celah untukku mengalihkan perhatian pada wanita lain. Tangannya yang mungil dan lembut,  kebiasaannya yang selalu menatap lekat mata lawan bicara ketika bertanya,  dengan sendirinya senyumnya akan terbayang. Karena begitu jelasnya, aku merasa seakan-akan  bisa meraba semua itu  satu per satu. Mengapa hal ini bisa terjadi?  

Meskipun kini sudah dua tahun berlalu, aku masih bisa mengingat dengan jelas ia terkulai lemas di hamparan pasir berbisik. Angin berhembus kencang menampar wajah yang penuh peluh, seakan tabrakan bersama terik sang mentari. Sambil menangis ia bercerita tentang hidupnya yang ruwet kepadaku.
 

Aku masih ingat rintihan tangisnya di pundakku. Meski tumbuh besar di gemerlap kota Paris, ia memiliki banyak mimpi yang harus terkubur ketika menginjak remaja. Ia ingin membahagiakan orang tua, hidup penuh kasih, juga pergi melihat belahan dunia  dengan seseorang yang dicintai.
 
Masa kecilnya sungguh sempurna. Selalu penuh canda tawa dan pelukan hangat. Dan semua memudar begitu cepat, ketika sang ibunda tiada. Tak ada lagi tempat ia berbagi. Sepi terlalu sering bersamanya.  Ia harus berjuang untuk mandiri. Rumah semakin sunyi, ketika ayah terlalu sering bolak-balik ke negri tirai bambu. Darah Cina yang mengalir dalam tubuhnya, mendatangkan permasalahan baru “rasisme”, ketika mencari kerja di kawasan menara Eifel.  

Padahal di bangku sekolah, ia merasa tidak ada perbedaan antara pelajar lokal maupun asing. Semua mendapat hak dan kewajiban yang setara, untuk menimba ilmu pengetahuan. Pemerintah Perancis sangat mendukung penuh proses belajar dan mengajar.   
 
Setelah sarjana, ia memutuskan kerja di Kuwait. Ia bekerja di salah satu perusahaan periklanan terbesar  di timur tengah, sebagai designer grafis. “Apakah ini namanya takdir?” tanyaku penuh rasa antusias. Ia diam sambil menarik nafas dalam-dalam. “Kini tabunganku lebih dari cukup, aku rasa harus pulang ke rumah, ayahku sendirian”, dengan wajah merona merah yang berlinang air mata. Ia sadar, luka dan masa lalu sama-sama memiliki batas yang kadang sulit dilupakan. Meski sudah panjang ia rentangkan langkah.
 
Dua hari itu  terasa sangat lama. Debu-debu berterbaran akibat putaran roda Jeep yang berseliruran di hamparan pasir berbisik. Setelah panjang bercerita kehidupanya yang begitu rumit. “Kau boleh tinggal bersamaku di Paris” celetuknya dengan senang. Hal ini karna aku punya keinginan besar untuk melanjutkan sekolah di Sorbonne. Dengan terbata-bata diriku “Je m’appelle Karis, Je suis étudiant”. Dan  sontak kita tenggelam dalam canda tawa karna logatku ketal aroma Melayu.

Sungguh indah kenangan itu. Bisa kubilang ini petunjuk dari sang maha pencipta. Kini aku rindu dan merasa kehilangan sosok manis itu.

Aku menunggunya, dengan rindu terdalam, dengan ingin yang penuh. Lalu, diam-diam ia membawaku, hanyut dalam kisah. Menua dalam kisah.
 

Aku berdiri membisu, menatap kawah Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu. Bau belerang menusuk hidung mancungku - mematikan rasa hati. Sambil berjalan lemas, resapi pemandangan yang indah. Kepala tertunduk kaku menatap anak tangga turun, sambil telusuri tiap jengkalnya. Semua terekam tak pernah mati.
 
Aku jadi ingat perkataannya lampau "menemukan apa yang seharusnya ditemukan" . Kata-kata yang membuatku sangat girang, karena telah kutemukan dalam tubuh mungilnya.  Ketika mentari bersinar terik, perhatian yang serba manis itulah yang menjadi pemusat perhatianku untuk terus senyum-senyum ketika mendapat pesan singkat darinya.
 
Terkadang, sebuah perpisahan mengingatkan kita akan sisi terbaik seorang anak manusia. Aku ingin bertemu diruang rindu, yang terselundup pada bagian paling dalam batinmu. Aku menghargai adanya pertemuan, bahkan bagiku semua itu adalah waktu terbaik yang tak pernah bisa terulang.

Hanya saja setiap pertemuan pasti ada ujung cerita, dan setiap mengawali maka ada pihak yang mengakhiri lambat launnya. Terlebih tentang perasaan.       

Kini tak ada kabar berita, semoga kabar baik. Kenangan lalu tersimpan rapi di otakku. Semua terekam jelas; gemulai jarimu, sipu malumu, halus tutur katamu dan kecupan perpisahan yang haru biru.

Tunggu aku....

Pencarian baru saja dimulai, aku melangkah ribuan kilometer terbang  mendekati mata hatinya. Barulah disadari, perasaan cinta yang tulus, mulai membuatku merasa bahagia. Ku tentukan arah tujuan saat membentangkan peta dunia, tak peduli kemana angin berhembus. Percayalah dengan tempat-tempat tertentu yang jauh di sana, bagaikan keluarga sejati. Tak pernah khawatir tuk kembali lagi karena ku sadar di lubuk hati terdalam, bahwa takdir kita saling terkait.




11.07 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 3

22 Sep 2013

KASET TEREKAM MANIS

SEJAK BALITA DIRIKU SUDAH KECANDUAN MUSIK. Suara berisik selalu bergema dari kamar belakang yang berhimpitan dengan ruangan dapur. Di situlah, cikal bakal diriku mengenal Netral hingga Bon Jovi. Majalah Rolling Stones  edisi terbaru bereserakan di lantai kamar saudara lelaki yang mulai beranjak dewasa. Dia adalah sosok kakak yang membangun pola pikir dan imajinasiku di masa kini. Entah mengapa, hampir semua barang-barang dikamarnya beraroma Amerika.  

Di tengah hingar bingar alunan musik. Aku  duduk manis sambil membolak-balik majalah yang tak mampu kupahami tata bahasanya. Tapi aku terus menatap heran dandanan para “Rock Star” yang terlihat sangar sambil menjilat gitar listrik. 

Kakakku tergeletak di atas kasur kapuk dan tampak serius mengerjakan ”Pekerjaan Rumah” dan tak ada  persiapan buat ujian besok.  Nada-nada terangkai indah dan dibaluti suara kencang dari pentolan Netral, yaitu Bagus. Mungkinkah ia dapat mencerna tiap pelajaran sambil mendengarkan musik? hanya Tuhan yang paham rahasianya.
 
Aku masih terbayang emosinya, ketika bernyanyi lagu “Walah” sambil teriak didepan mukaku yang tampak lugu kala itu. Pastinya, aku sangat menikmati lagu-lagu dari Netral hingga kini. 

Mengumpulkan kaset di era digital terasa semakin sulit, dimana produsennya tinggal sedikit dan barangnya juga tidak ditemukan di toko musik terdekat. Menurut Jopie Koseng, biaya produksi kaset pada 1970-an terbilang sangat murah dibanding bentuk piringan hitam. Biaya satu kaset bisa hanya Rp 2.500. "Saat itu kaset dicintai karena memang biaya dasarnya lebih murah.  

Setauku, kaset punya berbagai “penyakit”, seperti jamuran dan suaranya “mendem”. Suara mendem terjadi karena busa atau bantalan pita kaset sudah rusak. Jika dirawat dengan cinta, kaset dapat bertahan hingga 30 tahun. Hingga detik kini semua koleksiku masih tetap merdu, suaranya. Apabila kaset mendadak keriting. Aku hanya cukup membenarkan pita dengan batang pensil, lalu di putar seperti baling-baling bambu. Sangat mudah, bukan? 

Kaset pertamaku adalah Café dari album, Potret. Ini hadiah terindah, sewaktu khitanan (baca: titit di potong dikit).  Dari matahari terbit hingga kesunyian malam tanpa rembulan, diriku selalu ditemani tembang “Bagaikan Lagit yang diciptakan oleh Melly Goeslaw”, tentunya sambil menahan perih. Kaset baru bagaikan sahabat setia. Bagiku, ini adalah babak baru memasuki dunia remaja. “Siapa yang memberikan kaset itu?” tentunya kakaku yang bernama Redo Ferdiansyah itu.


Sebelum ia berangkat ke Chicago-Illinois, ia memberikan dua buah album Netral, yaitu Tidak Enak dan Wa...lah! Perpisahan yang penuh haru biru terjadi begitu saja. Dan beberapa minggu kemudian, rumahku kemalingan dan salah satu kaset pemberiannya di gondol oleh pencuri yang tak berperasaan. Tidak hanya kaset, tapi gitar listrikku juga ikut leyap bersama sounds system.  Satu kata yang pantas menggambarkan perasaanku adalah Galau.

Masa kecilku terekam manis di tiap gulungan pita hitam. Dan aku telah memutuskan untuk menjadi seorang  kolektor Kaset. 
 

Terima Kasih "Redo Ferdiansyah"
18.29 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 1

4 Agt 2013

Q and A : IKA PUSPITASARI

Sekitar jam dua siang, aku berjalan lesu kearah toilet, sembari memegangi perutku. Mungkin ini dikarenakan lidahku belum bersahabat degan makanan ala barat yang tersedia lezat selama penerbangan lintasi laut mediterania. Aku melangkah di antara bangku penumpang, tanpa semangat. Dan sebentar lagi maskapai Emirate yang kutumpangi  akan segera  mendarat di Bandara Barajas, Madrid.

Aku menghembuskan napas panjang begitu sampai di tempat "Baggage Claim". Antrian yang penuh membuatku tak sabar mengingat jam terus berjalan dan khawatir temanku yang datang menjemput terlalu lama menunggu.

Fiuh, ada baiknya bandara tidak dibuat terlalu megah. Dengan kondisi penumpang yang kecapekan setelah terbang belasan jam, lebih baik tempat pengambilan barang diperpendek, umpatku penuh denagan nada kesal. Bayangkan, saking besarnya bandara ini, aku harus naik turun lift, naik lagi, turun lagi, mulai naik turun di tangga biasa hingga naik turun elevator. Belum lagi, aku perlu naik metro train untuk mengambil koper dan ranselku.

Di tengah-tengah keramaian, aku melihat sosok seseorang yang amat sangat dikenal. Sebagai pecinta sepakbola, pasti sudah  tahu siapa dia. Apalagi jika Spanyol adalah tim negara favorit. Hanya saja otakku sedang macet, serta kurang mampu menjawab rasa penasaran dalam hatiku. Tunggu sebentar, aku mengenalnya dan sering melihat di layar kaca. Aha! Akhirnya aku inget. Itu kan Iker Cassillas, penjaga gawang terbaik yang membawa Spanyol menjadi Juara Dunia 2010.

Aku berlari mendekatinya. Tanpa sadar, tubuh yang lelah ini tiba-tiba tak terasa lagi dan aku merasa baik-baik saja saat mengejarnya. Loh, tapi... siapa yang bakal motretin? Bukannya aku sendirian di sini? Alhamdulillah, ada seorang kakek yang masih bugar berdiri tak jauh dari tempatku, segera saja kusodorkan kamera tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sayangnya, Iker ternyata sangat beda dengan aslinya ketika di jepret.

"Hai!" dengan ramah dan senyumnya yang menawan, Iker menyapaku setelah satu jepretan.

"Thanks," balasku sembari berjalan beberapa langkah mengikutinya. Malahan, aku lupa mengucapkan "thanks" pada Sang Kakek yang telah berjasa menolongku memotret. Cassillas telah berlalu jauh sementara aku masih tersenyum-senyum sendiri melihati hasil jepretanku. Ternyata tadi si Iker bersama dengan kekasihnya, Sara Carbonerro.


Sedari dulu, Ika Puspitasari  hanya bisa menatap lincahnya pemain bola di kotak bodoh, hingga larut malam. Dia berambisi melihat sang idola kulit bundar secara empat mata.

Dia terbang ke benua biru bukan untuk menyaksikan sepak bola, melainkan ikut pertemuan khusus mahasiswa pertanian dunia (IAAS). Semua berawal dari permasalahan visa masuk meunuju negara dunia ketiga, Macedonia. Sangat menguras banyak tenaga dan membuat frustasi, sehingga sang gadis magetan ini memulai memutar otak dan memulai semua cerita perjalanan dari negri matador terlebih dahulu…



7 hal yang terlintas di kepala ketika mendengar kata Spanyol?
Sepakbola, Real Madrid, Dani Pedrosa, Andalusia, Barcelona, tarian Salsa, gracias.


Apakah hanya karena sepak bola? 
Saya ke Spanyol untuk mendapatkan visa Schengen yang bisa saya gunakan ke Macedonia. Namun untuk panggilan hati, memang dari dulu saya berkeinginan untuk bisa ke Spanyol secara langsung dikarenakan saya sangat tertarik dengan sepakbolanya. Hanya dengan kesempatan itu, saya bisa menuruti keinginan hati saya.
 
Apakah pernah berdoa tuk bertemu dengan Iker Cassilas sebelumnya? 
Tidak pernah sama sekali. Saya tidak begitu mengidolakan Iker Cassillas, namun saya senang karena dia kiper terbaik yang membawa jagoan saya, Spanyol, menjadi juara dunia dan juara Eropa.

Bagaimana rasanya pertama kali naik pesawat? 
Amazing! Banyak hal yang saya kagumi, namun terkadang terasa membosankan karena sendirian dan perjalananya lama.

Apa yang berkesan selama di daratan benua biru? 
Yang paling mengesankan adalah ketika trade fair di Macedonia, ada cowok bernama Martin yang pengen sekali ke Indonesia. Saat itu, keripik ketela, singkong, dan tempe sukses dilahap sendiri oleh Martin. Dia sama sekali tak beranjak dari meja makanan Indonesia dan memakan keripik-keripik tersebut hingga tak bersisa. Sebelumnya, dia tak tau tentang negara Indonesia, dan setelah ini, dia pengen sekali berkunjung ke Indonesia untuk mencoba berbagai makanan lainnya.

Apa kejadian terburuk selama perjalanan? 
Ketika saya membeli tiket ke Paris hanya karena saya tidak punya pilihan lain untuk menghabiskan masa visa saya.

Dan apakah itu bener bener sebagai titik balik? 
Banget. Karena saya jadi tahu, bahwa apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan, dan belum tentu pula menjadi yang terbaik untuk kita jalani.

Sudah belajar apa saja? 
Banyak yang saya pelajari. Mulai dari kultur, seni, bahasa (meski tidak begitu banyak), dan masih banyak lagi. Arti hidup? Banyak banget yang saya bisa dapatkan pula di sana. Intinya, melihat sesuatu, jangan hanya dari luarnya saja. Namun, buka dan gunakan pula mata hati untuk melihat keindahan yang jauh lebih besar di balik apa yang telah jelas terlihat secara kasat mata.


Apa yang membuat kamu kepingin kembali ke eropa? 
Hmm… yang membuat saya tertarik dengan Eropa, sampai saat ini adalah sejarah dan sepakbola.

Apa benar di benua biru serba mewah? 
Saya tidak setuju. Ketika saya berada di Macedonia, negara ini sangat jauh dari kesan glamor. Negara ini tidak terlalu kaya. Banyak pedesaan, dan kota-kotanya pun tidak sepadat Madrid. Macedonia sebagai negara Eropa, mungkin punya kapasitas yang sama dengan Indonesia sebagai negara Asia, dalam hal tingkat keglamoran. Di akhir WoCo, delegasi melakukan field trip ke kota Resen. Di sana kami berada di sebuah danau yang menurut saya tempatnya lebih buruk dibanding dengan danau di Indonesia. Bahkan, saat saya dan Icha, delegasi IPB berjalan-jalan berdua di danau itu, ada sepasang manusia yang meminta foto bersama kami. Rasanya aneh aja. Kayak kalo kita lagi melihat artis gitu dan minta foto bareng. Kemudian, ada beberapa pria paruh baya yang berkumpul di tempat semacam kafe. Mereka memanggil kami dan mengajak kami berfoto bersama juga. Mereka juga menawarkan kami minum, namun kami menolaknya. Begitupun dengan makanan yang disajikan panitia untuk peserta WoCo. Tidak terlalu mengesankan dan lezat. Bahkan, seorang delegasi dari Italy mengatakan, “The foods are shit!” jadi saya pikir, keadaan Macedonia sangat berbeda jauh dengan negara-negara maju Eropa yang lain.

Bagaimana menangani shock culture, sebagai muslimah? 
Saya tidak terlalu merasakan shock culture, karena saya tahu budaya mereka jauh sekali degan budaya saya. Sehingga saya hanya mempersiapkan diri dengan baik. Saya juga berusaha untuk membawa diri untuk berbaur bersama mereka. Alkhamdulillah, mereka orangnya cukup respek dengan agama saya, sehingga saya tidak merasa kesulitan. Koki yang memasak pun sudah paham bahwasanya Muslim tidak memakan babi, sehingga ia menyediakan makanan lain untuk delegasi Indonesia ketika delegasi negara lain menyantap babi, misalnya roti, daging ayam, dan apa saja yang bukan babi. Yang saya perlu adaptasi ialah masalah kamar mandi dan waktu beribadah.


Apakah ada perubahan setelah kembali ketanah air? 
Yap, dari segi profesionalisme, saya bisa belajar menjadi trainer karena selama mengikuti WoCo, saya mengikuti banyak sekali training yang akhirnya saya praktekkan di hadapan teman-teman IAAS lainnya. Kalo dari segi rohani, mungkin saya bisa menjadi lebih dewasa, bijak, dan tidk terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Hikmah hidup yang sangat penting membuat saya menyadari telah banyak kesalahan yang saya lakukan di masa lalu.

05.58 Diposkan oleh kharis alimoerdhoni arief 1